Karakter Pelajar Pancasila di Masa Pembelajaran Daring

Penulis - Anik Isticharoh, M.Pd Pengajar Pendidikan Kewarganegaraan, SMP Muhammadiyah 3 Waru.

Karakter Pelajar Pancasila di Masa Pembelajaran Daring

Perkembangan teknologi saat ini telah berkembang pesat guna menunjang pembelajaran jarak jauh, lebih dikenal dengan sebutan pembelajaran online. Pembelajaran tersebut memaksa semua kalangan baik tenaga pengajar, orangtua, hingga siswa. Mereka mencoba untuk memahami dan menggunakan beragam cara dalam menerima pembelajaran dengan baik. Hal ini dialami oleh seluruh sekolah di penjuru negeri.

Perkembangan teknologi turut mempengaruhi perubahan karakter para pelajar di masa pembelajaran daring saat ini. Perubahan karakter tersebut membentuk pola interaksi dan pola kerjasama dalam mengendalikan emosi pelajar sebelum dan saat pembelajaran daring (Fauziah dkk, 2020). Perubahan karakter tersebut terjadi dikarenakan kurangnya komunikasi antar guru dan orangtua untuk membahas strategi yang harus diterapkan dalam mengendalikan emosi pelajar. Selain itu, perubahan karakter turut memperlambat kinerja pelajar dalam memahami etika di saat pembelajaran daring.

Karakter pelajar dapat berubah dengan menerapkan pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila dalam bentuk pembelajaran melalui film-film documenter. Pembelajaran tersebut perlu dilakukan secara berkala di setiap kegiatan online. Di saat pengajar hendak menyampaikan materi, film-film documenter tersebut ditayangkan terlebih dahulu dengan durasi waktu yang telah disepakati. Hal itu bertujuan untuk memberikan inspirasi dan motivasi kepada pelajar, sehingga mereka melihat dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila secara langsung.

Film-film documenter yang disajikan dapat disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila meliputi nilai karakter yang religius, peduli sosial, kemandirian, patriotisme, kebersamaan, demokratis, dan adil. Ketujuh nilai karakter tersebut mampu membentuk pelajar menjadi warga Negara yang baik dan cerdas. Hal ini dapat mempengaruhi pola pemikiran pelajar dan pemahaman menjadi lebih baik di masa mendatang.

Nilai-nilai Pancasila mampu menjauhkan pelajar dari realitas dan fenomena yang ada pada saat ini. Realitas dan fenomena yang dimaksud merujuk pada penurunan nilai moral seperti konflik, kekerasan, pelecehan seksual, budaya berbohong, kenakalan remaja, dan korupsi. Hal tersebut bisa menyebabkan hancurnya generasi penerus dan menyebabkan kehancuran negara.

Pendapat dari Lickona (1992) yang menyatakan bahwa terdapat sepuluh tanda perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa, yaitu: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; (2) ketidakjujuran yang membudaya; (3) semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figur pemimpin; (4) pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan; (5) meningkatnya kecurigaan dan kebencian; (6) penggunaan bahasa yang memburuk; (7) penurunan etos kerja; (8) menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara; (9) meningginya perilaku merusak diri; dan (10) semakin kaburnya pedoman moral.

Selain pendapat tersebut, Assiddiqie (2011:2) mengatakan bahwa dalam Kongres Pancasila III Sura-baya diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi-rekomendasi kebijakan operasio-nal dalam upaya membudayakan nilai-nilai Pancasila, terutama sebagai elaborasi atas rekomendasi-rekomendasi yang sudah dihasilkan dalam 2 kongres terdahulu. Tema-tema yang menjadi objek pembahasan adalah upaya-upaya: (1) revitalisasi dan reinterpretasi; (2) aktualisasi, sosialisasi, dan internalisasi; serta (3) pelem-bagaan dan pengelolaan pembudayaan, nilai-nilai Pancasila yang sejak reformasi 1998 sampai sekarang cenderung semakin diabaikan dan bahkan dilupakan orang.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, perlu dilakukan pembudayaan nilai-nilai Pancasila secara konkrit dan berkesinambungan (Oktavia dkk, 2017). Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang hakikatnya merupakan nilai-nilai interaksi dalam pergaulan hidup manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, disisi lain, hakikatnya pendidikan karakter Pancasila bukan hanya kewajiban bagi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, melainkan semua mata pelajaran dan semua elemen lapisan masyarakat untuk saling bahu membahu dan saling mendukung satu sama lain.

1 Response

Leave a Reply