NASIB GURU DI MASA PANDEMI

Penulis - Nanik Mindarningsih, M.Pd

NASIB GURU DI MASA PANDEMI

    Guru identik dengan ungkapan pahlawan tanda jasa, namun kenyataannya gurulah yang banyak memberi jasa dalam kehidupan manusia, karena jasa guru , banyak orang  mulia di dunia ini  ,sukses dan terhormat.Guru memiliki makna secara universal, guru bermakna seseorang  yang mengajarkan kebaikan seperti guru ngaji, guru les , guru dosen, ustad ulama dan sebagainya

     Mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang mulia, karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah SWT dan dengan ilmu dia menjadi perantara manusia lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia maupun akherat. Selain itu guru merubah karakter untuk menjadikan manusia menuju yang terbaik.

        Seperti dalam sebuah hadis yang menyebutkan “sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada dilangit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar semuanya bershalawat kepada mualim (orang berilmu dan mengajarkanya)yang mengajarkan kebaikan pada manusia” ( HR.Tirmizdi).  Begitu besarnya profesi guru karena profesi ini bukan main main sekali kita memilih kita harus berani bertanggung jawab dan menjadi guru yang professional. Dalam Islam sosok guru adalah merupakan tugas yang sangat mulia di samping mengemban misi keilmuwan agar peserta didik menguasai ilmu yang diajarkan juga ilmu agama untuk mengarahkan peserta didik menuju jalan Allah SWT.  Namun yang menjadikan problem pada masa pandemi di saat menebarnya virus corona hingga Indonesia menyatakan pembelajaran dengan jarak jauh , maka bagaimana nasib guru di masa pandemi ini.

       Seperti yang tertera dalam undang undang Pendidikan yang di maksud dengan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, akhlak mulia.  Serta tujuan bangsa Indonesia yang tertera dalam pembukaan UUD 45 alenia ke empat yang berbunyi “ untuk membentuk suatu negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia “ yang berarti ikut bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat. Saat ini Indonesia ada dalam fase yang tidak terduga sebelumnya , karena merebaknya virus corona sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan pyshical distancing yang berpengaruh besar terhadap dunia Pendidikan , sehingga peserta didik diberlakukan pembelajaran jarak jauh. Pada masa pandemi ini guru mempunyai program dalam pembelajaran jarak jauh yang salah satunya mempunyai tujuan yang sangat baik diantaranya:

  1. Meningkatkan kopentensi guru dalam merancang pembelajaran jaraj jauh berbasis beban kurikulum yang disederhanakan
  2. Mengemban kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh yang melibatkan siswa.
  3. Mengemban ketrampilan guru dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh secara efektif
  4. Meningkatkan guru dalam melakukan asesmen pembelajaran jarak jauh yang berdampak pada kualitas pembelajaran

Dari keseluruhan tujuan tersebut pemerintah berharap agar di masa pandemi ini tidak mengurangi masa belajar dan waktu pelajar pada siswa.

     Pada prinsipnya pembelajaran merupakan suatu proses yang di tandai dengan adanya interaksi antar berbagai elemen system Pendidikan (Trianto, 2009, hal.19) meliputi siswa, pendidik , sumber/bahan ajar dengan lingkungan belajar yang mendukung proses tersebut untuk mencapai tujuan dari pembelajaran (Mudjono.Dimyati,2009). Keberhasilan proses pembelajaran akan terwujud apabila terdapat pengelolahan yang baik semua elemen tersebut melalui sistim menejemen pembelajaran yang standart yang telah ditemukan. Oleh karena itu di masa pandemic covid 19 pembelajaran daring dan luring juga harus dapat menjamin menejemen pembelajaran sesuai prinsip tersebut agar tercapai keberhasilan peserta didik(Yuliani, 2020,hal. 33). Prinsip pembelajaran perlu diperhatikan sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Pendidikan. Berdasarkan prinsip pembelajaran yang telah dipaparkan diatas , bagaiamana pembelajaran agar menjadi efektif berdasarkan prinsip pembelajaran tersebut di masa pandemic-19? Maka solusinya yaitu pemerintah memberi masyarakat dan pihak sekolah kebebasan untuk memilih pembelajaran yang di gunakan saat di sekolah yaitu pembelajaran daring maupun luring.

      Dalam hal pembelajaran luring tersebut mempunyai banyak dampak terhadap kemampuan kopetensi guru serta peserta didik yang dihadapi diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Fasilitas pembelajaran yang kurang mumpuni,

      Pembelajaran yang baik hendaknya tersedia fasilitas belajar yang memadai, antara lain ruang tempat belajar, penerangan cukup, buku-buku pegangan, kelengkapan peralatan. Jadi dalam hal ini, fasilitas belajar merupakan segala sesuatu yang memudahkan untuk belajar. Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai. Misalkan tidak memiliki smartphone atau laptop, daya beli kuota internet yang rendah dan lain sebagainya. Hasil survey menunjukkan bahwa 29% penduduk Indonesia belum memiliki handphone. Sebesar 28% penduduk memiki handphone biasa artinya tidak bisa untuk mendukung implementasi e-learning dan yang memiliki smartphone sebesar 42% (Yanuar, 2019).

  1. Kemampuan literasi yang rendah

      Pelaksanaan aktivitas belajar dirumah dengan media daring menuntut peserta didik menguasai media yang beragam. Untuk keefektifan aktivitas pembelajaran online, diperlukan penggunaan media atau aplikasi daring yang beragam pula  (Hasanah, Sri Lestari, Rahman, & Danil, 2020). Dalam pembelajaran berbasis daring, aktivitas literasi terhadap teknologi dan pengusaan media yang beragam ini. Hal ini merupakan kemampuan mendasar dalam aktivitas belajar daring, dimana ketika seorang mahasiswa tidak menguasai media literasi terhadap teknologi pembelajaran daring maka aktivitas belajar daring tidak bisa berjalan dengan semestinya. Hal ini akan mengakibatkan proses belajar yang mengalami hambatan seperti sulit mengerjakan tugastugas, tidak tahu cara menggunakan aplikasi belajar daring seperti zoom, google class, google meet dan sejenisnya (yang memungkinkan digunakan oleh guru bersangkutan), sehingga siswa tertinggal dalam pemahaman pembelajaran.

  1. Akses internet yang sulit.

      Jaringan tidak stabil juga merupakan hambatan dalam proses pembelajaran dengan sistem daring. Keberadaan fasilitas jaringan merupakan hal yang utama dalam pembelajaran sistem daring, karena berkaitan dengan kelancaran proses pembelajaran. Keberadaan peserta didik yang jauh dari pusat kota ataupun jauh dari jangkauan jaringan provider tentunya tidak dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan lancar (Jamaluddin et al., 2020). Masalah ini banyak dialami oleh siswa yang tinggal di wilayah-wilayah terpencil atau jauh dari kota. Hal ini berakibat pada aktivitas pembelajaran yang lumpuh total. Satu-satunya jalan pembelajaran adalah dengan mengirimkan paket materi ajar dan tugas-tugas melalui pos atau jasa antar barang. Namun dalam hal ini, tingkat pemahaman siswa juga sulit dinilai karena alat ukur yang kurang memadai pula.

  1. Kemampuan belajar mandiri yang kurang

          Kunci dalam pembelajaran daring adalah kemandirian siswa untuk belajar. Hal ini  diawali dengan kesadaran siswa untuk belajar. Siswa yang sadar atas kebutuhan

        dan   tanggungjawabnya untuk belajar, akan terus berusaha mengikuti perkembangan

       dan tugas-tugas meskipun sulit. Oleh sebab itu, kemandirian sangat penting dalam

      proses  belajar daring dimasa pandemi ini. Kendala-kendala tersebut menuntu tanggungjawab

     guru dalam pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Kompetensi guru menjadi

      modal  yang turut menentukan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran melalui daring.

Leave a Reply