Preloader

Office Address

Jl. Kol. Sugiono 105 Kurekasari Waru Sidoarjo

Phone Number

0812335188000
(031) 8536555

Email Address

cc@smpmugaru.sch.id

Bukan Sekadar Membaca Sirah, Tapi Menemukan Jalan Nabi Membangun Umat

Bukan Sekadar Membaca Sirah, Tapi Menemukan Jalan Nabi Membangun Umat

Kajian Ahad PCM Waru

Sidoarjo, 16 Agustus 2026. Ada kalanya kita membaca kisah Rasulullah SAW bukan untuk sekadar mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang masih hidup hingga hari ini: bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun sebuah umat dari manusia-manusia yang sederhana menjadi generasi yang kuat, beriman, berilmu, dan saling menolong? “Membaca sirah Nabawiyah jangan hanya membaca kronologis nya tetapi 4 pilar yang disebutkan dalam Qs al Baqarah ayat 129. Dengan menisbatkan nama Muhammadiyah berarti kitalah yang paling berkewajiban untuk memahami sirah Nabawiyah.”

Pernyataan itulah yang mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Ahad, 16 Agustus 2026. Kajian menghadirkan Ustadz Akhmad Arif Rifan, S.H.I., M.Si., dengan tema “Manhaj Nabi dalam Membangun al-Ummah al-Muslimah.”

Sirah Bukan Sekadar Kronologi

Di hadapan jamaah, Ustadz Akhmad Arif Rifan mengajak peserta mengubah cara pandang dalam membaca sirah Nabawiyah. Menurutnya, perjalanan Rasulullah SAW tidak semestinya hanya dibaca sebagai rangkaian peristiwa kapan hijrah, kapan perang terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana sebuah peristiwa berlangsung.

Lebih dari itu, sirah harus dibaca untuk menemukan manhaj, yaitu jalan dan metode Rasulullah SAW dalam membangun manusia dan membentuk umat. “Membaca sirah Nabawiyah jangan hanya membaca kronologisnya. Kita harus menemukan manhaj Nabi dalam membangun al-Ummah al-Muslimah,” tegasnya. Pesan tersebut menjadi penting karena umat Islam hari ini menghadapi persoalan yang berbeda secara zaman, tetapi memiliki kebutuhan yang sama: manusia membutuhkan iman, ilmu, keteladanan, penyucian jiwa, persaudaraan, dan kepedulian sosial.

Ketika Nama Muhammadiyah Menjadi Sebuah Amanah

Dalam kajian tersebut, Ustadz Akhmad Arif Rifan juga mengajak warga Muhammadiyah merenungkan makna nama Muhammadiyah. Nama tersebut bukan sekadar identitas organisasi. Di dalamnya terkandung keterikatan cinta dan tanggung jawab untuk mengenal lebih dekat sosok Nabi Muhammad SAW sekaligus memahami manhaj beliau dalam membangun umat.

“Dengan menisbatkan nama Muhammadiyah kepada Nabi Muhammad SAW, maka kitalah yang paling berkewajiban untuk memahami sirah Nabawiyah,” ungkapnya. Kalimat itu seakan menjadi cermin bagi setiap warga persyarikatan. Setelah lebih dari satu abad Muhammadiyah tumbuh dan berkembang, pertanyaannya bukan hanya seberapa besar organisasi ini telah berkembang, tetapi juga sejauh mana nilai-nilai perjuangan Rasulullah SAW benar-benar hidup dalam gerakannya.

16 Ribu Ranting dan Bayangan Keberkahan

Perjalanan panjang Muhammadiyah juga menjadi bagian dari renungan dalam kajian tersebut. Ustadz Akhmad Arif Rifan mengutip perspektif Ibnu Khaldun mengenai keberlangsungan sebuah entitas. Ketika sebuah entitas mampu bertahan melewati usia seratus tahun, menurut perspektif tersebut, tentu ada banyak faktor dan keberkahan yang membuatnya mampu terus bertahan.

Muhammadiyah telah melewati perjalanan lebih dari satu abad. Keberkahan itu dapat dibayangkan melalui luasnya jaringan persyarikatan yang hadir hingga tingkat ranting. Muhammadiyah memiliki sekitar 16 ribu ranting. Jika secara sederhana satu ranting dianalogikan memiliki satu masjid, maka bisa kita bayankan sekitar 16 ribu masjid Muhammadiyah yang menjadi ruang untuk shalat, belajar, berdakwah, bersilaturahmi, dan membina umat.

“Kalau kita analogikan satu ranting satu masjid, maka ada sekitar 16 ribu masjid persyarikatan Muhammadiyah. Kita bisa membayangkan keberkahan yang mengalir lewat lantunan ayat al Quran dari masjid-masjid itu untuk keberkahan persyarikatan Muhammadiyah,” tuturnya. Angka tersebut akhirnya bukan sekadar angka. Di baliknya ada jamaah yang bersujud, anak-anak yang belajar Al-Qur'an, para dai yang berdakwah, dan masyarakat yang saling menguatkan. Dari masjid-masjid itulah keberkahan gerakan terus diharapkan mengalir dari generasi ke generasi.

Jika Ingin Memperbaiki Umat, Kembalilah kepada Jalan Nabi

Dalam kajian, jamaah juga diajak mengingat sebuah jawaban yang masyhur dari Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang cara memperbaiki umat Islam. Inti jawabannya adalah bahwa umat generasi ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan mengikuti sesuatu yang dahulu menjadikan baik generasi awal.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi umat Islam hari ini. Di tengah banyaknya gagasan tentang bagaimana memperbaiki umat, sirah Nabawiyah menawarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kembali melihat bagaimana Rasulullah SAW membina manusia. Bukan sekadar membangun institusi, tetapi membangun manusia. Bukan hanya memperbanyak pengetahuan, tetapi membentuk akhlak. Bukan hanya memperkuat identitas, tetapi menguatkan iman dan persaudaraan.

Empat Pilar Manhaj Nabi

Ustadz Akhmad Arif Rifan kemudian mengajak jamaah merenungkan QS Al-Baqarah ayat 129 dan 151, QS Ali Imran ayat 164, serta QS Al-Jumu’ah ayat 2. Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran tentang misi Rasulullah SAW dalam membina umat. Dari sana dapat ditemukan empat pilar penting dalam manhaj Nabi untuk memperbaiki manusia dan membangun umat. 

Pertama, membacakan ayat-ayat Allah. Kedua, mengajarkan Al-Kitab atau Al-Qur'an. Ketiga, mengajarkan al-hikmah yang dalam syarahnya dimaksanai dengan Al-Hadits. Keempat, menyucikan jiwa atau tazkiyatun nafs. Empat hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan umat tidak cukup dilakukan melalui transfer pengetahuan. Ada proses membaca, memahami, mengajarkan, mengamalkan, dan akhirnya menyucikan diri.

Dalam interaksi dengan Al-Qur'an, jamaah diajak melihat setidaknya tiga hal penting: membaca Al-Qur'an, mengajarkannya, dan menjadikan nilai-nilainya sebagai jalan tazkiyatun nafs. Dengan demikian, Al-Qur'an tidak berhenti di lisan. Ia harus bergerak menuju pikiran, hati, akhlak, dan kehidupan.

Iman, Hijrah, Jihad, dan Saling Menolong

Pembahasan kemudian mengarah pada QS Al-Anfal ayat 74, yang menggambarkan karakter orang-orang yang benar-benar beriman. Ayat tersebut menyebutkan iman, hijrah, jihad, memberikan tempat tinggal, serta memberikan pertolongan. Unsur-unsur tersebut menjadi gambaran bahwa kekuatan umat tidak lahir hanya dari jumlah, tetapi dari kualitas iman dan kepedulian antar umat.

Para ahli sirah menjadikan ayat tersebut sebagai salah satu pedoman untuk melihat bagaimana umat Islam dibangun menjadi komunitas yang kuat. Ada iman yang mengikat hati. Ada hijrah yang menuntut perubahan. Ada perjuangan yang membutuhkan kesungguhan. Ada kesediaan memberikan tempat bagi saudara. Dan ada pertolongan yang membuat seorang Muslim tidak berjalan sendirian.

Sirah yang Harus Hidup dalam Gerakan

Kajian Ahad Pagi PDM Sidoarjo akhirnya membawa jamaah pada sebuah perenungan sederhana tetapi mendalam: membaca sirah Nabi seharusnya membuat kita berubah. Sebab, sirah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah cermin untuk melihat diri hari ini dan peta untuk menentukan arah masa depan.

Bagi Muhammadiyah, memahami sirah berarti belajar kembali bagaimana Rasulullah SAW membangun umat melalui Al-Qur'an, hikmah, pendidikan, tazkiyatun nafs, iman, hijrah, perjuangan, persaudaraan, dan kepedulian. Disitulah makna terdalam dari sebuah gerakan yang menyandang nama Muhammadiyah: bukan hanya mencintai nama Muhammad, tetapi berusaha menghadirkan jejak perjuangan Muhammad SAW dalam kehidupan.

Karena pada akhirnya, kita tidak hanya dituntut untuk tahu bagaimana Nabi membangun umat. Kita dipanggil untuk meneruskan jalan kebaikan itu dimulai dari diri sendiri, keluarga, masjid, persyarikatan, dan masyarakat.

SugA

Share:
Jurnalis Mugaru
Author

Jurnalis Mugaru

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *