Preloader

Office Address

Jl. Kol. Sugiono 105 Kurekasari Waru Sidoarjo

Phone Number

0812335188000
(031) 8536555

Email Address

cc@smpmugaru.sch.id

Bandung Bondowoso Gagal Bangun Seribu Kopdes, Roro Jonggrang Dikutuk Jadi Ciki Kopdes: Satire Menggelitik dari Mugaru di Panggung LPB HW

Bandung Bondowoso Gagal Bangun Seribu Kopdes, Roro Jonggrang Dikutuk Jadi Ciki Kopdes: Satire Menggelitik dari Mugaru di Panggung LPB HW

Dahulu, Bandung Bondowoso membangun seribu candi demi mendapatkan cinta Roro Jonggrang. Namun, di tangan kreatif siswa SMP Muhammadiyah 3 Waru (Mugaru), legenda itu berubah menjadi kisah seribu koperasi desa (Kopdes). Modalnya berasal dari konspirasi kebakaran hutan, pembangunannya dibantu orang-orang sakti, tetapi semuanya gagal hanya karena ayam berkokok sebelum waktunya. Yang lebih menggelitik, Roro Jonggrang justru dikutuk menjadi Ciki Kopdes.

PASURUAN – Siapa bilang anak SMP hanya bisa mengikuti cerita legenda yang diwariskan turun-temurun? Di tangan siswa SMP Muhammadiyah 3 Waru (Mugaru), kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang justru berubah menjadi satire yang menggelitik sekaligus menyentil persoalan bangsa.

Melalui drama parodi berjudul Bandung Bondowoso Membangun 1000 Kopdes dalam Satu Malam, para siswa menghadirkan cerita rakyat dalam wajah baru. Bukan lagi sekadar kisah cinta yang berakhir dengan kutukan, melainkan cerita tentang ambisi pembangunan, konspirasi kebakaran hutan, dan kelicikan manusia.

Drama tersebut menjadi bagian dari rangkaian Lomba Pandu Berprestasi (LPB) Hizbul Wathan Kwarda Sidoarjo bersama Forum Silaturahmi Kepala Sekolah Muhammadiyah (Foskam) SMP/MTs Muhammadiyah se-Kabupaten Sidoarjo, yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Bumi Perkemahan Hizbul Wathan, Pasuruan, Jawa Timur.

Di tengah kegiatan kepanduan yang sarat nilai kedisiplinan, kemandirian, dan kerja sama, siswa Mugaru memilih panggung seni sebagai ruang untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang tidak biasa. Mereka tidak sedang berkhotbah tentang kerusakan lingkungan. Tidak pula menyampaikan pidato panjang tentang keserakahan manusia. Mereka memilih membuat penonton tertawa, lalu mengajak mereka berpikir. Ketika Hutan Terbakar, Ambisi Justru Berkobar

Cerita dimulai dari keinginan besar Bandung Bondowoso untuk membangun seribu Kopdes hanya dalam satu malam. Sebuah proyek ambisius yang terdengar mustahil bagi manusia biasa. Namun, Bandung Bondowoso bukanlah tokoh sembarangan. Dengan kesaktiannya, ia percaya bahwa tidak ada pekerjaan yang mustahil diselesaikan. Persoalannya, membangun seribu Kopdes tentu membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Dalam cerita parodi tersebut, modal pembangunan justru diperoleh melalui konspirasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di sinilah sindiran para siswa mulai terasa. Hutan yang seharusnya dijaga sebagai sumber kehidupan justru digambarkan menjadi korban kepentingan manusia. Pepohonan yang terbakar seolah tidak lagi dipandang sebagai bencana, melainkan peluang untuk mengumpulkan keuntungan.

Ketika hutan kehilangan pohonnya, sebagian orang justru menemukan jalan untuk memperbesar ambisinya. Melalui adegan tersebut, siswa Mugaru menyisipkan pertanyaan yang patut direnungkan. Apa artinya pembangunan yang megah apabila harus diawali dengan kerusakan alam? Orang Sakti Dikerahkan, Seribu Kopdes Hampir Berdiri

Setelah modal terkumpul, Bandung Bondowoso segera memanggil orang-orang sakti. Mereka diperintahkan membangun seribu Kopdes sebelum matahari terbit. Malam itu, pekerjaan berlangsung begitu cepat. Satu demi satu bangunan berdiri. Para orang sakti bekerja tanpa mengenal lelah. Bandung Bondowoso semakin yakin bahwa ambisinya akan segera menjadi kenyataan. Namun, di balik pembangunan yang berlangsung luar biasa cepat itu, tersimpan sindiran yang cukup tajam. 

Pembangunan seolah hanya dipandang sebagai persoalan mengejar jumlah dan menyelesaikan target. Padahal, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri. Ada proses yang harus dijaga. Ada kejujuran yang tidak boleh dikorbankan. Ada lingkungan yang harus tetap dilestarikan. Sebab, seribu bangunan yang berdiri tidak akan berarti banyak jika dibangun di atas kehancuran alam.

Roro Jonggrang Bangunkan Ayam, Proyek Seribu Kopdes Berantakan. Ketika pembangunan hampir selesai, Roro Jonggrang mulai gelisah. Ia menyadari bahwa Bandung Bondowoso tinggal selangkah lagi mencapai keberhasilan. Namun, Roro Jonggrang tidak kehabisan akal. Dengan kecerdikan sekaligus kelicikannya, ia menyusun siasat untuk menggagalkan proyek tersebut.

Roro Jonggrang membuat suasana seolah-olah pagi telah tiba. Ayam-ayam dibangunkan lebih awal hingga suara kokoknya memecah keheningan malam. Mendengar ayam berkokok, orang-orang sakti mengira waktu pengerjaan telah habis. Mereka pun menghentikan pekerjaan. Proyek seribu Kopdes yang hampir selesai akhirnya gagal.

Bandung Bondowoso yang semula membayangkan keberhasilan besar mendadak harus menelan kekecewaan. Ambisinya runtuh bukan karena kekurangan modal atau tenaga, melainkan karena siasat Roro Jonggrang. Kutukan Tak Terduga, Roro Jonggrang Jadi Ciki Kopdes. Kegagalan tersebut membuat Bandung Bondowoso murka. Ia merasa telah diperdaya oleh Roro Jonggrang.

Dalam legenda aslinya, kemarahan Bandung Bondowoso berujung pada kutukan yang mengubah Roro Jonggrang menjadi arca. Namun, siswa Mugaru memilih akhir cerita yang jauh lebih menggelitik. Roro Jonggrang tidak berubah menjadi batu. Ia justru dikutuk menjadi Ciki Kopdes!

Sebuah akhir cerita yang absurd, tetapi menjadi kejutan humor dalam parodi tersebut. Perempuan yang semula berusaha menggagalkan pembangunan seribu Kopdes justru berakhir menjadi produk yang membawa nama Kopdes itu sendiri. Melalui adegan ini, siswa Mugaru memperlihatkan kemampuan mereka mengolah cerita rakyat menjadi pertunjukan yang segar, kreatif, dan dekat dengan fenomena kehidupan masa kini. Dari Panggung LPB HW, Siswa Mugaru Menyentil Persoalan Bangsa

Pementasan tersebut menjadi salah satu bentuk kreativitas siswa dalam rangkaian Lomba Pandu Berprestasi Hizbul Wathan Kwarda Sidoarjo bersama Foskam SMP/MTs Muhammadiyah se-Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di Bumi Perkemahan Hizbul Wathan Pasuruan itu menjadi ruang bagi para pandu muda Muhammadiyah untuk mengembangkan keterampilan, keberanian, kerja sama, dan kreativitas.

Bagi siswa Mugaru, pentas seni bukan sekadar kesempatan menunjukkan kemampuan berakting. Panggung juga menjadi tempat menyampaikan gagasan dan kepedulian terhadap persoalan sosial. Melalui parodi Bandung Bondowoso, mereka mengangkat isu kebakaran hutan yang menjadi salah satu tantangan lingkungan di Indonesia. Kritik tersebut tidak diarahkan untuk menolak keberadaan koperasi desa yang memiliki tujuan memperkuat ekonomi masyarakat.

Sebaliknya, Kopdes digunakan sebagai simbol pembangunan yang seharusnya dijalankan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa Mugaru seolah ingin mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh hanya diukur dari banyaknya proyek yang berhasil diselesaikan.

Kemajuan juga harus mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan kehidupan. Ketika Tawa Menjadi Cara Menyampaikan Kegelisahan. Ada hal menarik dari keberanian siswa Mugaru mengangkat persoalan serius melalui cerita yang jenaka. Mereka tidak menghadirkan kritik dalam bentuk kemarahan. Tidak pula melalui kalimat-kalimat yang menyudutkan pihak tertentu. Mereka memilih satire.

Melalui kelucuan, penonton diajak melihat ironi kehidupan. Melalui cerita yang tampak sederhana, tersimpan pertanyaan tentang arah pembangunan dan masa depan lingkungan. Di sinilah seni menemukan maknanya. Seni bukan sekadar tontonan. Ia dapat menjadi cermin yang memperlihatkan kenyataan dari sudut pandang berbeda. Terlebih ketika cermin itu dihadirkan oleh generasi muda yang kelak akan mewarisi negeri ini.

Pementasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam kepanduan Hizbul Wathan dapat berjalan beriringan dengan penguatan daya kritis dan kepedulian sosial. Para pandu muda tidak hanya dilatih menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri, tetapi juga didorong untuk peka terhadap persoalan masyarakat dan lingkungan.

Seribu Kopdes Gagal Berdiri, tetapi Kesadaran Berhasil Dibangun. Pada akhirnya, Bandung Bondowoso gagal membangun seribu Kopdes dalam semalam. Roro Jonggrang pun harus menerima kutukan menjadi Ciki Kopdes. Namun, dari panggung pentas seni LPB Hizbul Wathan di Pasuruan, siswa Mugaru justru berhasil membangun sesuatu yang jauh lebih bermakna. Bukan candi. Bukan pula koperasi. Melainkan kesadaran bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan masa depan lingkungan. Sebab, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Di dalamnya tersimpan kehidupan, sumber air, keseimbangan alam, dan harapan generasi mendatang. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya batang pohon dan dedaunan. Ada masa depan yang ikut dipertaruhkan.

Membangun seribu Kopdes mungkin hanya membutuhkan satu malam dalam dunia dongeng. Namun, mengembalikan hutan yang hangus terbakar bisa membutuhkan waktu puluhan tahun. Dari panggung sederhana di Bumi Perkemahan Hizbul Wathan Pasuruan, siswa Mugaru menitipkan pesan yang layak direnungkan bersama. Jangan sampai kita begitu sibuk membangun negeri, hingga lupa bahwa bumi tempat kita berpijak sedang menangis.

 

- SugA -

Share:
Jurnalis Mugaru
Author

Jurnalis Mugaru

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *