Preloader

Office Address

Jl. Kol. Sugiono 105 Kurekasari Waru Sidoarjo

Phone Number

0812335188000
(031) 8536555

Email Address

cc@smpmugaru.sch.id

KAJIAN AHAD "KUNCI HIDUP BIJAK DI ERA GADUH" BERSAMA PROF. DR. BIYANTO, M. Pd

KAJIAN AHAD "KUNCI HIDUP BIJAK DI ERA GADUH" BERSAMA PROF. DR. BIYANTO, M. Pd

Kajian Ahad "Kunci Hidup Bijak di Era Gaduh" bersama Prof. Dr. Biyanto, M. Pd

Suasana Masjid An-Nur PDM Sidoarjo pada Ahad (21/9) pagi tampak cerah. Sejak pukul 06.00 WIB, jamaah mulai berdatangan. Di serambi sebelah utara, ada beberapa stand bazar dan stand yang menyiapkan teh dan kopi gratis untuk para jamaah yang hadir. Sebagian Jamaah memasuki ruangan utama dan duduk bershaf. Sebagia yang lain menyempatkan untuk shalat 2 rakaat. Bacaan Al-Qur’an mengiringi hangatnya kebersamaan, menambah khidmat pengajian rutin yang kali ini menghadirkan Prof. Dr. Biyanto, M.Pd., tokoh  Muhammadiyah yang juga sebagai Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga di Kemendikdasmen Republik Indonesia, dengan tema “Hidup Bijak di Era Gaduh.

 

Dalam pemaparannya, Prof. Biyanto menggambarkan kondisi dunia saat ini dengan istilah yang kerap digunakan para pakar global: VUCA .

  • Volatility (perubahan cepat): banyak hal yang dulu mapan kini bergeser, bahkan hilang. Banyak pekerjaan yang sekarang mulai hilang.

  • Uncertainty (ketidakpastian): banyak hal tidak jelas arah dan kepastiannya.

  • Complexity (kerumitan): permasalahan semakin kompleks dan saling berkaitan.

  • Ambiguity (kesamaran): informasi sering membingungkan, bahkan bercampur hoaks.

“Dalam pusaran VUCA ini, yang kita butuhkan adalah kehati-hatian,” tegasnya. Menurut beliau, sikap hati-hati adalah kunci agar umat tidak terseret arus fitnah, kabar bohong, maupun provokasi yang kerap mewarnai kehidupan sosial dan media.

 

Pesan Al-Qur’an tentang Kehati-hatian

Pesan tersebut diperkuat dengan rujukan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari QS Thaha 20:120–124,

 

image.png

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

 

image-1.png

 

“Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu tampaklah aurat mereka dan mulailah mereka menutupi dengan daun-daun surga. Maka Adam telah durhaka kepada Tuhannya dan sesatlah ia.”

image-2.png

Kemudian Tuhannya memilihnya, menerima taubatnya, dan memberinya petunjuk.”

 

image-3.png

 

Allah berfirman: Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.”

 

image-4.png

 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan bangkitkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Dari kisah empat ayat diatas kita diajak belajar dari kisah Nabi Adam yang tergelincir karena menerima bisikan iblis tanpa tabayyun. Kesalahan itu membuat beliau harus menerima hukuman, menjadi peringatan bagi umat manusia sepanjang zaman.

 

Lalu dalam QS Al-Hujurat 49:6, Allah menegaskan pentingnya meneliti setiap berita:

 

image-5.png

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah dengan cermat agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kebenarannya, yang akhirnya membuatmu menyesal.”

 

Pelajaran dari Haditsul Ifk

Ceramah semakin menarik saat beliau menyinggung Haditsul Ifk—peristiwa besar dalam sejarah Islam, ketika Sayyidah ‘Aisyah r.a. difitnah melakukan perbuatan tercela dengan Shafwan bin al-Mu‘aththal. Fitnah itu mengguncang masyarakat Madinah hingga akhirnya Allah menurunkan Surah An-Nur ayat 11–20 untuk membersihkan nama ‘Aisyah dan menegaskan bahwa tuduhan tersebut hanyalah dusta belaka.

Kisah Haditsul Ifk mengajarkan kita bahwa tidak semua berita layak dipercaya. Tabayyun adalah bentuk nyata dari kehati-hatian,” jelas Prof. Biyanto di hadapan jamaah yang khidmat menyimak.

Kehati-hatian tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan alat yang dinamakan pendidikan. Pendidikan adalah cara terbaik untuk menyalakan obor peradaban. Pesan ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk era digital, warga Muhammadiyah harus tampil sebagai teladan: berhati-hati dalam bersikap, bijak dalam menyikapi informasi, dan selalu menjadikan Al-Qur’an serta sunnah sebagai rujukan utama.

 

 

created by Ustadz Agus Widiyanto, M. Pd

Share:
Jurnalis Mugaru
Author

Jurnalis Mugaru